-->

Nasihat Islami agar Tidak Sedih dan Bingung

Sudah menjadi fitrah kehidupan yang silih berganti dan berpasangan. Semua sedang menunggu giliran. Kita semua sedang menanti dalam sebuah antrian panjang. Hanya saja kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di masa depan.

Nasiahat adalah penguat dan penerang. Ia membuat kita mampu bangkit dari keterpurukan. Ia juga yang bisa membuat jalan kita terang benderang. Kegelapan akal dan buntunya ide seakan tergantikan oleh jalan lapang nan gemerlap dengan pelita-pelita yang bercahaya. Syaratnya tentu kita harus membuka hati menerima hantaman kata-kata yang ada dalam nasihat itu. Kita harus bertahan menerima sayatan, tohokan, tusukan dan hantaman dari kata-kata itu. Karena walaupun nasihat disampaikan dengan kata-kata paling lembut sekalipun tetap saja itu menyakitkan, ia menusuk tepat di tengah jantung pribadi dan harga diri. Maka bagi yang menasihati hindarkanlah kata-kata yang tajam dan mengiris hati, hilangkan sindiran yang sinis, dan kritikan tajam yang memutus tali jantung. Namun begitu bagi yang berharap kebaikan maka sepahit apa pun nasihat harus ia telan dan jangan dimuntahkan kembali. Karena ia adalah obat pahit yang besar sekali khasiatnya.

Di antra hal yang selalu ada adalam kehidupan dunia adalah kebahagiaan dan kesedihan, atau keyakinan dan kebingngan. Yang akan kita bahas adalah soal susah dan bingung. Kesusahan adalah perasaan tidak enak atas kejadian di masa lalu yang telah terjadi. Sedangkan kebingungan adalah perasan tidak enak atas masa depan yang belum terjadi. Orang yang beriman hendaklah selalu bersandar kepada Allah yang menguasai masa. Masa lalu, sekarang, dan yang akan datang semua ia miliki.

Mari kita menyimak kisah Ibrahim bin Adham yang suatu saat ia melihat orang yang dari raut mukanya ia sedang sedih. Kemudian ia bertanya;

"Apakah dalam alam ini ada sesuatu kejadian yang tidak dikehendaki oleh Allah?"

Orang itu menjawab. "Tidak."

"Apakah pernah rezekimu yang telah ditakdirkan oleh Allah dikurangi-Nya?"

"Tidak." jawab orang itu lagi.

"Apakah umurmu yang telah dicatat oleh Allah dikurangi sedikit?"

Dijawabnya, "Tidak."


Lalu Ibrahim berkata lagi, "Kalau demikian mengapa kamu susah dan sedih?!"

LihatTutupKomentar