Suatu pagi yang cerah tampakia Asep sudah menunggu gurunya, Ustadz Agus di teras masjid Baitul Huda. Dari raut wajahnya tampak sekali ada sesuatu hal yang ingin disampaikan Asep kepada gurunya.
Setelah Ustadz Agus keluar dari rumahnya, hendak menuju ke halaman depan rumahnya, Asep langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum warahmatullah ... Pak Kyai"
"Waalaikumussalam warahmatullah, Sep ada apa?
"Mohon maaf Pak kyai, saya ada pertanyaan, sesungguhnya ini PR pelajaran agama saya."
"Baiklah. Kamu mau bertanya soal apa, Sep?"
"Saya punya pekerjaan rumah sejumlah pertanyaan pengetahuan agama, tapi saya bacakan dua saja, saya tidak tau jawabannya."
"Baiklah, coba bacakan!"
"Bagaimana caranya agar terhindar dari gangguan syetan saat di rumah?"
"Oh. Itu sudah saya ajarkan dalam pengajian malam Rabu, kamu masih ingat?"
"Masih Pak kyai, tapi saya lupa sebagian penjelasan kyai."
"Agar terhindar dari gangguan syetan saat ada di rumah kamu harus sering membaca Al-Qur'an. Jadi bacaan Al-Qur'an itu akan mengusir syetan. Bila kamu tidak sempat maka perbanyaklah dzikir. Jangan lupa membaca ayat kursi dan 2 ayat terakhir Surat Al-Baqarah."
"Jadikanlah rumah sebagai tempat ibadah. Jangan menjadikan rumah sebagai tempat maksiat kepada Allah."
"Trus Bagaiamana Kalau di Luar Rumah?"
"Prinsipnya hampir sama. Baik di alam tau di luar rumah kamu harus melakukan amal taqwa kepada Allah. Jangan lupa kepada Allah, selalu taat kepada-Nya, dan berupaya untuk bersyukur kepadanya."
"Pak Kyai, Bolehkan Pak Kyai menambahkan dalilnya untuk ini!?"
"Dari Anas bin Malik ia berkata, "Barangsiapa yag ketika keluar rumah membaca doa, "Bismillahi tawakkaltu 'alallah laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiimi," maka dikatakan kepadanya, "Kamu telah tercukupi dan terlindungi" dan syetan pun akan menjauhinya."
"Hadits ini diriwayatkan siapa Pak Kyai?"
"Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi."
"Apa derajatnya?"
"Hadits ini memiliki derajat Hasan, Sep."
Setelah mendengar jawaban Kyai Agus, Asep kemudian pamit dan mengucapkan terima kasih.
Setelah Ustadz Agus keluar dari rumahnya, hendak menuju ke halaman depan rumahnya, Asep langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum warahmatullah ... Pak Kyai"
"Waalaikumussalam warahmatullah, Sep ada apa?
"Mohon maaf Pak kyai, saya ada pertanyaan, sesungguhnya ini PR pelajaran agama saya."
"Baiklah. Kamu mau bertanya soal apa, Sep?"
"Saya punya pekerjaan rumah sejumlah pertanyaan pengetahuan agama, tapi saya bacakan dua saja, saya tidak tau jawabannya."
"Baiklah, coba bacakan!"
"Bagaimana caranya agar terhindar dari gangguan syetan saat di rumah?"
"Oh. Itu sudah saya ajarkan dalam pengajian malam Rabu, kamu masih ingat?"
"Masih Pak kyai, tapi saya lupa sebagian penjelasan kyai."
"Agar terhindar dari gangguan syetan saat ada di rumah kamu harus sering membaca Al-Qur'an. Jadi bacaan Al-Qur'an itu akan mengusir syetan. Bila kamu tidak sempat maka perbanyaklah dzikir. Jangan lupa membaca ayat kursi dan 2 ayat terakhir Surat Al-Baqarah."
"Jadikanlah rumah sebagai tempat ibadah. Jangan menjadikan rumah sebagai tempat maksiat kepada Allah."
"Trus Bagaiamana Kalau di Luar Rumah?"
"Prinsipnya hampir sama. Baik di alam tau di luar rumah kamu harus melakukan amal taqwa kepada Allah. Jangan lupa kepada Allah, selalu taat kepada-Nya, dan berupaya untuk bersyukur kepadanya."
"Pak Kyai, Bolehkan Pak Kyai menambahkan dalilnya untuk ini!?"
"Dari Anas bin Malik ia berkata, "Barangsiapa yag ketika keluar rumah membaca doa, "Bismillahi tawakkaltu 'alallah laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiimi," maka dikatakan kepadanya, "Kamu telah tercukupi dan terlindungi" dan syetan pun akan menjauhinya."
"Hadits ini diriwayatkan siapa Pak Kyai?"
"Apa derajatnya?"
"Hadits ini memiliki derajat Hasan, Sep."
Setelah mendengar jawaban Kyai Agus, Asep kemudian pamit dan mengucapkan terima kasih.
Percakapan di atas sangat menginspirasi. Dengan amalan yang sangat mudah dan ringan Allah memberikan pahala dan keistimewaan yang hebat.
Maka sebaiknya setiap muslim mesti lebih memperhatikan apapun yang disampaikan oleh Rasulullah saw.. Dalam menjalankan sunnah ada kemajuan dan kejayaan.
Sudah banyak contoh dalam sejarah pelaksanaan sunah-sunah Rasulullah mengundang kasih sayang Allah kepada hambanya.
Kebesaran Allah mesti kita agungkan baik dalam hati maupun dalam perbuatan. Hal itu diraih dengan menambah pengetahuan tentang Allah dan lebih banyak menceritakannya.
Kemudian dalam keseharian kita mencoba mengajak orang untuk mengagungkan-Nya dan mengajak orang untuk berbicara dengan pembicaraan-pembicaraan yang berisi pengaungan kepada Allah SWT.
Bagian lain dari hadits ini adalah kita harus lebih intensif dalam mewaspadai tindak-tandukk syetan. Meskipun mereka tidak bisa kita lihat namun kita mengetahui tingkahnya dari kalamullah dan sabda Rasulullah saw..
Sesungguhnya tipu daya syetan sangat lemah. Hanya dengan membaca ta’awwudz syetan lari. Tapi kita harus lebih kuat kesabarannya dari pada syetan.
Kekuatan syetan akan hilang bila kita bertawakal kepada Allah. Siapa yang akan mengalahkan kita kalau yang kita sebah dan minta pertolongan adalah Allah SWT.
Dalam hal ini, tawakal sangatlah penting. Kita tidak punya kekuatan sama sekali. Yang bisa kita lakukan adalah menyerahkan semuanya hanya kepada Allah SWT.