-->

Jambu Merah Untuk Anakku

Malam sudah mulai larut. Jam dinding yang bersuara lirih sudah menunjukkan angka 12. Itu tandanya mata sudah mulai mengantuk. Namun karena ada yang sakit di pergelangan tangan hingga harus merelakan sejenak terjaga demi menganti giliran dipijat.

Kali ini saya dan teman menunggu antrian. Saya ingin sekali rasa sakit karena keseleo ini sembuh setelah dibenarkan oleh ahlinya. Bapa Ejen yang kami harapkan untuk bisa membuat tangan yang terkilir kembali normal seperti sediakala.

Tibala giliran saya dan langsung saja ia membaca basmalah sebagai ritual wajib sebelum melakukan pijatan. Pertama kali tangannya menyentu bagian yang sakit di pergelangan tangan rasanya ada tulang yang gemertak dan saya cukup kaget dan merasakan sangat sakit.

Rasa sakit saat  dipijat sedikit terobati dengan kelakar dan cerita yang keluar dari sang pemijat, Bapak Jaenudin, seorang petugas keamanan di tempat saya bekerja. Ia menceritakan sebuah kisah yang menarik disimak dan anda mesti membacanya.

Saya akan ceritakan secara ringkas saja.

"Ada beberapa orang laki-laki yang sedang menggotong seorang kakek, yang kemudian diketahui adalah ayah mereka. Mau dibawa kemana kah laki-laki tua tersebut? Diceritakan bahwa ia akan dilemparkan oleh anak-anaknya sendiri karena telah bosan mengurusnya."

"Kakek tersebut hanya pasrah. Hingga saat salah seorang akan melemparkannya ke dasar jurang terhenti langkahnya. Kakek bertanya, "Kenapa kamu berhenti?" Ia menjawab "Sebentar, itu ada Jambu Merah, saya akan naik ke pohon jambu itu dan memetiknya."

Kakek itu bertanya, "Untuk siapa kamu memetik jambu di atas pohon yang tinggi itu? Tidakkah lebih baik kamu melemparkan aku dulu ke jurang baru kamu ambil Jambu merah itu?

Ia menjawab, "Tidak, Jambu Merah ini lebih penting. Karena bila sekarang tidak kuambil nanti diambil orang." Lantas ia naik ke pohon jambu yang tinggi itu dan memetik jambunya.

Setelah turun,

Kakek tersebut tersenyum dan berkata, "Bila kamu ingat anakmu hingga kamu harus rela naik ke pohon jambu yang tinggi itu, maka aku pun sama, dan kamu masih mendingan tidak mengambil dan menaiki pohonnya saat hujan yang diiringi petir. Aku dulu mengambil jambu di atas pohonnya yang lebih tinggi dari pohon jambu ini dalam keadaan hujan deras diiringi kilatan petir."

Mendengar bapaknya bicara seperti itu, orang tersebut tertegun dan air matanya mengalir. Ia baru tersadar betapa orang yang sekarang bertubuh renta yang akan dilemparkannya ke jurang begitu perkasa dan sangat menyayanginya.

Ia bicara kepada saudara-saudaranya, "Ayo kita pulang, kita akan mengurus bapak kita dengan kemuliaannya yang tinggi. karena sesungguhnya kita memiliki anugerah besar dengan kehadiran dan masih hidupnya bapak kita di tengah-tengah kita."

Terima kasih pak Ejen atas ceritanya ...
LihatTutupKomentar