Bila tamu agung yang tanpa cela dan selalu membawa kebaikan diberitakan akan datang ke satu daerah maka semua orang di sana bersiap untuk menyambutnya. Jalan-jalan pada diperbaiki, kiri kanan jalan dihiasi bunga-bunga, bendera, umbul-umbul, dan hiasan lainnya. Berbagai gedung telah siap untuk acara pertemuan dengannya. Makanan dan hunian khusus telah tersedia.
Dalam menyambut Bulan Ramadhan pun seperti itu. Bulan yang bila datang selalu saja membawa keberkahan. Dan keberkahan itu akan disampaikan kepada orang-orang yang membayar harganya dengan pantas. Maka orang-orang yang tahu keuntungan yang akan didapatkan bila ramadhan tiba akan berupaya membayar harga-harga bagi keberkahan-keberkahan yang tidak bisa dhargakan karena saking sangat berharga. Orang-orang ini tidak sedikitpun merasa sempit hati atas kedatangannya. Ia tida ingin berlaku tidak baik terhadap tamu agung ini, berbuat zhalim, mengusir, dan menyakitinya.
Bulan Ramadhan akan datang kepada setiap orang, siap atau tidak siap. Dan sebagai manusia beriman sebaiknya bersiap-siap untuk menyambutnya dan mendapatkan keberkahannya. Lalu apa saja keberkahan yang dibawa oleh tamu agung yang bernama Ramadha ini? Berikut –wallahu a’lam – ulasannya.
Seperti ditulis di atas, bahwa keberkahan ramadhan akan didapatkan oleh orang yang bisa membayar harganya. Berapa harga keberkahan itu? Harganya tentu mahal. Karena itu bukan harga yang mampu dibayar oleh manusia yang fakir dan miskin. Namun tamu agung itu diutus juga dengan membawa keberkahan lain diantaranya melipatgandakan nilai daya beli orang yang akan menghargai keberkahan Ramadhan.
Di antara keberkahan Ramadhan adalah adanya malam yang menentukan bagi kehidupan manusia yang disebut ‘lailatulqadr’. Maka manusia seperti apakah yang akan mendapatkan lailatulqadr yang berkah ini? Yang mana orangnya?
Pertama yang berpeluang besar mendapatkannya adalah orang yang jauh-jauh hari berharap, berdo’a dan bersiap-siap menyambutnya. Lalu setelah itu ia terus berupaya untuk menjalankan hal-hal yang membuat tamu agung yang membawa berkah itu betah di rumahnya. Kaena Ramadhan sang utusan pembawa berkah itu datang ke setiap rumah di seluruh wilaah yang ada di dunia, namun siapa yang membuat betah ramadhan betah berlama-lama di rumahnya adalah yang akan beruntung.
Maka yang kedua adalah orang-orang yang aka mendapatkan ‘lailatulqadr’ adalah orang yang sungguh-sungguh menata rumahnya, membesihkannya, membut nyaman rumahnya, menghidangkan menu yang disukai tamunya, berusaha menyesuaikan diri dengan hobi dan kebiasaan tamunya, dan sebagainya, yang akan mendapatkan keberkahan ‘lailatulqadr’.
Dengan ini orang yang leha-leha dan acuh tak acuh terhadap tamunya semenjak ia datang kemungkinan besar tidak akan mendapatkan keberkahan, tamunya tidak betah berlama-lam tinggal di rmahnya, dan kalau diberi jamuan tamu itu bilang belum lapar namun sesaat kemudian ia terlihat makan bersama keluarga lain di rumah orang lain pula. Tamunya akan pergi-pergi mengunjungi rumah-rumah yang sesuai dengan keinginannya.
Maka diantara hikmah ‘lailatulqadr’ datang pada 10 malam terakhir Bulan Ramadhan kepada orang-orang yang telah berusaha menyesuakan diri dengan tabi’at lailatul qadr yang akan dibayar harganya. Di antaranya ‘lailatulqadr’ datang kepada orang yang suci bersih jiwanya dan istiqamah ibadahnya.
Bulan Ramadhan akan datang kepada setiap orang, siap atau tidak siap. Dan sebagai manusia beriman sebaiknya bersiap-siap untuk menyambutnya dan mendapatkan keberkahannya. Lalu apa saja keberkahan yang dibawa oleh tamu agung yang bernama Ramadha ini? Berikut –wallahu a’lam – ulasannya.
Seperti ditulis di atas, bahwa keberkahan ramadhan akan didapatkan oleh orang yang bisa membayar harganya. Berapa harga keberkahan itu? Harganya tentu mahal. Karena itu bukan harga yang mampu dibayar oleh manusia yang fakir dan miskin. Namun tamu agung itu diutus juga dengan membawa keberkahan lain diantaranya melipatgandakan nilai daya beli orang yang akan menghargai keberkahan Ramadhan.
Di antara keberkahan Ramadhan adalah adanya malam yang menentukan bagi kehidupan manusia yang disebut ‘lailatulqadr’. Maka manusia seperti apakah yang akan mendapatkan lailatulqadr yang berkah ini? Yang mana orangnya?
Pertama yang berpeluang besar mendapatkannya adalah orang yang jauh-jauh hari berharap, berdo’a dan bersiap-siap menyambutnya. Lalu setelah itu ia terus berupaya untuk menjalankan hal-hal yang membuat tamu agung yang membawa berkah itu betah di rumahnya. Kaena Ramadhan sang utusan pembawa berkah itu datang ke setiap rumah di seluruh wilaah yang ada di dunia, namun siapa yang membuat betah ramadhan betah berlama-lama di rumahnya adalah yang akan beruntung.
Maka yang kedua adalah orang-orang yang aka mendapatkan ‘lailatulqadr’ adalah orang yang sungguh-sungguh menata rumahnya, membesihkannya, membut nyaman rumahnya, menghidangkan menu yang disukai tamunya, berusaha menyesuaikan diri dengan hobi dan kebiasaan tamunya, dan sebagainya, yang akan mendapatkan keberkahan ‘lailatulqadr’.
Dengan ini orang yang leha-leha dan acuh tak acuh terhadap tamunya semenjak ia datang kemungkinan besar tidak akan mendapatkan keberkahan, tamunya tidak betah berlama-lam tinggal di rmahnya, dan kalau diberi jamuan tamu itu bilang belum lapar namun sesaat kemudian ia terlihat makan bersama keluarga lain di rumah orang lain pula. Tamunya akan pergi-pergi mengunjungi rumah-rumah yang sesuai dengan keinginannya.
Maka diantara hikmah ‘lailatulqadr’ datang pada 10 malam terakhir Bulan Ramadhan kepada orang-orang yang telah berusaha menyesuakan diri dengan tabi’at lailatul qadr yang akan dibayar harganya. Di antaranya ‘lailatulqadr’ datang kepada orang yang suci bersih jiwanya dan istiqamah ibadahnya.