-->

Tidak Punya Ijazah tapi Sukses Punya 10 Hektar Kebun Pisang

Tahun 2021 adalah masa-masa yang mencekam dalam kehidupan umat manusia terutama di perkotaan.

Namun di pedesaan tidak terlalu berdampak. Udara yang segar dan jehipan yang bergerak terasa lebih santai dan harmonis.

Saya bertemu seorang pekebun ladang yang dari tampilan dan gaya bicaranya sudah bisa ketahuan bahwa dia bukan sembarang orang.

Dugaan saya terbukti. Saya dapat cerita dari pemilik warung dekat kebunnya. Ia mengatakan bahwa orang tadi punya 10 hektar kebun pisang.

Mendengar cerita itu saya penasaran dengan mindset orang tadi. Maka saya mulai mendekat dan minta izin ikut bernaung di saung kebun itu.

Pemandangan yang asri dan udara yang segar makin membuat saya bersemangat.

"Seupan cauna Jang, Tah Aya seupan hui Jeung taleus ... " (Ini dek pisang kukus, ubi dan tasanya.). Begitu dia menawarkan.

"Tah Aya enten bari na, bisi dek dihaneutkeun pek atuh." (Ini ada teh Bari {teh kemarin}, kalau mau dihangatin silahkan).

Saya di sana sangat lama karena asyik mendengar ceritanya yang sederhana tapi penuh kekocakan dan kekonyolan.

Si kakek ini yang belakangan saya tahu cuma tamatan SR (Sekolah Rakyat) ternyata memilik pandangan luas tentang investasi pada tanaman.

Di bercerita bahwa sudah banyak mencoba menanam aneka tanaman tapi kebanyakan tidak menjadi uang yang besar.

Maka si kakek memfokuskan ke kebun pisang itu setelah menghitung dengan perhitungan yang menurut saya simple.

Bilatanaman jangka pendek itu untuk kehidupan sehari-hari dan uangnya kecil. Tapi cukup capek mengerjakannya harus tiap hari.

Kalau mau uang bertambah harus menanam tanaman tahunan. Kayu dan yang lainnya.

Say apikih pisang karena ini yang paling mudah dikerjakan.

Untuk tanaman pendek seperti kangkung atau jagung ia cuma sanggup setengah hektar saja. Karena dikerjakan sendiri.

Tapi untuk tanaman jangka panjang dan untuk hidup mapan sejak awal ia target punya lahan 10 hektar.

Dari konsepnya adalah kebun kecil membiayai pembelian dan pembuatan kebun 10 hektar. Dan ia berani menggarapnya karena santai dan tidak dikerjakan setiap hari.

Yang menarik adalah bagaimana cara ia membeli lahan 10 hektar ini.

Ternyata lahan kebun kalau di perkampungan itu sangat murah. 

Dia cerita harganya ada yang 10 juta rupiah per hektar.

Ada yang di bawah itu harganya kalau yang menjual lahannya sangat butuh uang.

Jadi setiap 3 tahun sekali ia beli 1 hektar kebun.

Si kakek ini punya hitungan yang bagis. Dia bisa prediksi bahwa satu pohon pisang minimal akan beranak 1. Tapi kalau tujuan punya kebun satu hektar maka anaknya harus dilelihara. Jangan dulu fokus ke buah. Fokus pertama setelah berbuah adalah pisahkan anaknya.

Tidak Punya Ijazah tapi Sukses Punya 10 Hektar Kebun Pisang



Dalam tempo satu tahun si Kakek punya banyak anak pisang yang bisa ditanamkan untuk kebun 2 hektar. Dari 2 hekta dapat lagi anak untuk 4 hektar. Dan untuk 10 hektar tetap dari kebun pertama dannkebun-kebun setelahnya.

Pelajarannya dari cerita ini adalah:

1. Pelajari satu bidang dan cara mengembangkannya menjadi besar.
2. Memulai sesuatu yang besar adalah dengan melangkah satu langkah kecil yang terstruktur.
3. Sabar dan telaten 
4. Kuasai pasar dan lihat pergerakannya.
5. Delegasikan pekerjaan kepada pegawai dan buatkan sistem gaji yang win-win solution.

LihatTutupKomentar