-->

Kisah Seorang Kakak yang Tidak Tamat Sekolah

Kisah Seorang Kakak yang Tidak Tamat Sekolah ni ada dalam bukunya Bapak Parlindungan Marpaungyang berjudul setengah isi setengah kosong. Saya sendiri tidak ingat lagi kapan saya punya buku itu. Mungkin antara rentang waktu tahun 2005-2007. Bukunya bagus banyak cerita yang menginspirasi.

Detil ceritanya saya tidak ingat lagi. Baiklah, akan saya ceritakan semampu saya.

Dalam sebuah pesawat dari Jerman menuju Indonesia duduklah bersebelahan seorang laki-laki yang masih mudah dengan seorang nenek-nenek. Dari wajahnya mereka terlihat ada rona kebahagiaan. Dua insan ini sama-sama memiliki cerita bahagia masing-masing.

Setela mereka duduk dan tegur sapa maka mulailah percakapan ini menghiasi kisah. Sebagai orang muda, lelaki itu memulai pembicaraan dengan menanyakan banyak hal. Hingga percakapan itu menyangkut soal keluarga masing-masing.

"Ibu sudah dari Jerman menemi siapa, apakah Ibu selama ni tinggal di Jerman?"

"Ibu tidak tinggal di Jerman. Ibu di Indonesia. Ibu pergi ke Jerman karena putra bungsu ibu yang meminta. Ia yang membiayai semuanya."

"Hebat sekali putra Ibu, Apakah ia bekerja di Jerman?"

"Benar, Ia katanya seorang profesor di sebuah kampus di Jerman."

"Oh ya, sungguh luar biasa."

"Ibu ada berapa anak semuanya?"

"Anak Ibu banyak. Semuanya ada sebelas."

"Mereka tinggal di mana sekarang?"

"Yang kedua seorang dokter gigi di Belanda, yang ketiga akuntan di Jepang, yang keempat dosen di Prancis, yang kelima sebagai direktur sebuah perusahaan di Canada."

"Wah hebat-hebat sekali putra Ibu!"

"Alhamdulillah, dengan izin Allah!"

"Terus yang lain Bu?"

Yang keenam jadi ulama di Brunai, yang Keenam spesialis penyait dalam di Jenewa, yang ketujuh konsultan energi tidak terbarukan di Amerika, yang kedelapan dokter bedah di Inggris, yang kesembilan Duta Besar Turki, yang kesepuluh jenderal bintang 4, dan yang kesebelas Profesor di Jerman."

"Wah hebat sekali, tapi yang pertama bagaimana Bu, dari tadi saya perhatikan si Sulung belum ibu sebut?"

Kisah Seorang Kakak yang Tidak Tamat Sekolah


Mendengar pertanyaan itu, Si Nenek menangis dan meneteskan air mata.

"Maaf bila pertanyaan saya membuat ibu sedih!"

"Tidak, tidak, tidak apa-apa. Saya idak sedih. Justru saya bangga dengan si sulung. Karena dengan kerelaan dan kerja keras serta kebesaran jiwanya, adik-adiknya yang sepuluh itu tadi sukses semuanya. Dialah yang membiayai adik-adiknya. Dia rela tidak sekolah demi agar semua adiknya menjadi orang yang sukses. Dialah anak Ibu yang paling sukses, Nak!"
LihatTutupKomentar