Sependek yang saya ketahui mengenai shalat Tarawih adalah shalat yang dilakukan setelah Isya dengan bacan ayat-ayat Al Qur'an yang panjang. Ini diketahui dari cara Rasulullah saw melaksnakannya.
Dalam keterangan, sependek yang saya tahu, di bulan Ramadhan ini Rasulullah yuthiilutthilaawah yang artinya memanjangkan bacaan. Dan ini dibuktikan oleh sahabat Hudzaifah Ibn Al Yaman yang pernah shalat dengan Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah saw membaca Al Baqarah, Ala 'Imran, dan An Nisa dalam satu rakaat.
Dalam hal ini saya merasa ada ganjalan saat menerima berita bahwa di satu tempat ada pelaksanaan shalat Tarawih 20 Rakaat dalam waktu "hanya" 10 menit. Saya menilainya sangat cepat dan ini terlalu cepat. Meskipun demikian saya mendengar bahwa penggemr pelaksanaan shalat ini semakin banyak dan banyak yang merasa penasaran.
Dari kasus ini ada sbeberapa catatan yang ingin saya sampaikan. Pertama shlat seperti ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.. Lebih lebih bila anda akan menghubungkan dengan konsep ihtisaaban.
Saat melaksanakan shlat Tarawih ini mesti dilakukan dengan penuh hikmat dan khidmat. Gerakan yang tidak beratuiran dan dilakukan dengan cepat tidak memberikan kesempatan kepada hati anda untuk menikmati bacaan dan me nnghayati maknanya.
Di sela-sela shalat anda mesti memanfaatkan dengan menghitung-hitung dosa dengan penuh penyesalan. Ini dilakukan dengan penuh kekhusuan dan tidak boleh tergesa-gesa. Dengan menjaga tempo-tempo itu anda akan lebih menikmati ibadah and dan abukan hanya menghadirkan keseruan dan keceriaan.