Ternyata yang terlihat sewot bukan hanya orang yang mengerti atau seorang alim. Namun pengamatan saya ternyata yang terlihat paling sewot justeru mereka yang "dianggap tidak paham" terhadap agama atau bahkan "disinyalir" tidak maksimal mengamalkannya.
Ualama yang marah saat agamanya dihina tentu masih bisa menguasai dirinya. Itulah tanda ilmu agama yang menghiasi akhlaqnya. Namun mereka yang termasuk kalangan yang kedua tadi sangat sulit menguasai dirinya.
Baca juga: Kyai Blogger: Antara Kesalihan dan Modernitas Teknologi.
Dari peristiwa ini saya mencatat bahwa siapapun tidak boleh menghina agam orang lain. Dan dalam catatan saya menyatakan bahwa "berandalan" ternyata sangat berani pasang badan dan berani mati untuk membela agamanya.
Yang kedua soal prinsip tidak boleh diungkit-ungkit. Dalam hal ini menjada perkataan dan pembicaraan agar tidak menista dan menodai prinsip orang lain harus diperhatikan. Karrena keberanian tanpa kesantunan lebih banyak menghancurkan dari pada membangun. Memang pada akhirnya semua orang harus mempertanggung-jawabkan semua yang diperbuatnya. Bukan hanya nanti tapi sekarang juga.
Sekian catatan saya. Mohon maaf bila saya salah. Dan bila ada yang baik dan benar silahkan diambil dan dibagikan. Tegur sapa persahabatn sangat saya perlukan untuk perbaikan di masa yang akan datang.