Berkunjung ke daerah Ciwalen-Warung Kondang beberapa hari yang lalu begitu banyak menghadirkan hikmah pelajaran. Pertama kali bertemu dengan pengaruh Pondok Pesantren Darul Abrar, Bapak Kyayi Haji Bukhori Muslim, mengingatkan saya dengan guru saya di kampung. Wajah, perawakan, gaya bicara dan kesederhanaannya sangat mirim. Begitulah mungkin citra yang dipancarkan oleh para 'alim ulama Islam dari dahulu sampai sekarang. Aura kesalihan yang dihiasi dengan kedalaman ilmu begitu memikat hati sehingga siapapun merasa betah duduk berlama-lama untuk mendengar cerita, kisah, hikmah dan pelajaran dalam setiap lontaran kata dan canda mereka.
Satu lagi yang sangat terasa adalah Bapak kyayi ini merakyat. Dan memang dari dahulu sampai sekarang para 'ulama Islam itu merakyat. Begitulah yang saya tahu bahwa mereka mewarisi sifat dan akhlak Rasulullah yang selalu dekat, selalu menyayangi, mengayomi dan menghormati para rakyat atau masyarakat yang tidak berpunya meski Rasulullah itu dihormati para pemimpin, raja, kisra dan kaisar.
Santri yang Menauladani
Setelah itu kami berkunjung kepada salah satu santrinya yang juga sudah menjadi kyayi juga. Ia bernama kyayi Ridwan. Seorang guru ngaji dan praktisi Pengobatan dengan metode Thibbunnabawi. Ia ahli dalam hijamah, bekam, ruqyah, pijat refleksi, dan tentunya penceramah.
Di Rumahnya yang sangat nyaman saya diobati. Dengan telaten ia bercerita dan membagi ilmu tentang hijamah, nutrisi, saluran saraf, diagnosa penyakit, manfaat makanan dan tumbuh tumbuhan, makanan berbahaya dan tumbuhan atau makanan tertentu yang harus dihindari.
Dua sesi saya dihijamah. Yang saya rasakan nyaman dan tidak ribet. Maka bagi yang akan mencoba melakukannya saya kataka jangan khawatir. Semuanya aman dan peralatan semuanya higienis. Dan satu lagi tanpa efek samping.
Obrolan yang Penuh Hikmah
Dengan candaannya yang khas yaitu selalu ada kata "wajib" yang meluncur responsif lewat bibir yang selalu tersenyum, Ustadz Ridwan banyak bercerita tentang hikmah hijamah dan metode sehat ala Nabi Muhammad Saw.. Penjelasannya sanga enak didengar dan sangat ilmiah.
Diantara yang agak serius adalah obrolan tentang mancing ikan. Jadi ia punya kolam ikan dan sudah ada yang datang untuk menayakan bisa tidaknya untuk kongkur (mancing ikan) di tempatnya. Maka Ustadz langsung saja menolak.
Alasan penolakannya ternyata sangat filosofis dan fiqhiyah. Ia berawal dari fakta. Ia berpandangan bahwa faktanya orang yang mancing di sekitar sana melupakan shalat bahkan ada yang sampai tidak shalat Jumu'ah. Ini sudah merupakan kelalaian yang disengaja. Karena tidak mungkin ia tidak mendengar atau tidak melihat syi'ar-syi'ar jumu'ah.
Kedua, faktanya yang memancing ikan di kolam-kolam itu hanya mementingkan kesenangan sendiri. Rata-rata orang akan gembira dengan ikan yang mau memakan umpannya. Dan setelah didapat kemudian ia lepaskan lagi. Dengan ini orang itu telah bergembira di atas penderitaan ikan yang kesakitan. Padahal ikan yang dipancing pada awalnya adalah untuk dikonsumsi dan ini tidak menyalahi, dari pada ikan tersiksa begitu.
Ketiga, alasan penolakan Ustadz Ridwan akan hal di atas adalah bila semua yang menurutnya tidak baik itu dilakukan di kolam yang ia setujuai untuk itu berarti ia telah pula ikut andil karena ia telah menyediakan fasilitas untuk itu. Dan ia takut kebawa-bawa nanti di akhirat.
Sungguh luar biasa. Ini visi yang jauh ke dean. Ini buah iman yang dijaga dengan riyadhoh dan istiqomah. Inilah iman yang lebih mementingkan keridhoan Allah semata sehingga rela meninggalkan keuntungan bisnis kolam pemancingan yang ntungnya telah di depan mata.
Semoga kita bisa menauladani teladan yang sangat luar biasa ini.
Satu lagi yang sangat terasa adalah Bapak kyayi ini merakyat. Dan memang dari dahulu sampai sekarang para 'ulama Islam itu merakyat. Begitulah yang saya tahu bahwa mereka mewarisi sifat dan akhlak Rasulullah yang selalu dekat, selalu menyayangi, mengayomi dan menghormati para rakyat atau masyarakat yang tidak berpunya meski Rasulullah itu dihormati para pemimpin, raja, kisra dan kaisar.
Santri yang Menauladani
Setelah itu kami berkunjung kepada salah satu santrinya yang juga sudah menjadi kyayi juga. Ia bernama kyayi Ridwan. Seorang guru ngaji dan praktisi Pengobatan dengan metode Thibbunnabawi. Ia ahli dalam hijamah, bekam, ruqyah, pijat refleksi, dan tentunya penceramah.
Di Rumahnya yang sangat nyaman saya diobati. Dengan telaten ia bercerita dan membagi ilmu tentang hijamah, nutrisi, saluran saraf, diagnosa penyakit, manfaat makanan dan tumbuh tumbuhan, makanan berbahaya dan tumbuhan atau makanan tertentu yang harus dihindari.
Dua sesi saya dihijamah. Yang saya rasakan nyaman dan tidak ribet. Maka bagi yang akan mencoba melakukannya saya kataka jangan khawatir. Semuanya aman dan peralatan semuanya higienis. Dan satu lagi tanpa efek samping.
Obrolan yang Penuh Hikmah
Dengan candaannya yang khas yaitu selalu ada kata "wajib" yang meluncur responsif lewat bibir yang selalu tersenyum, Ustadz Ridwan banyak bercerita tentang hikmah hijamah dan metode sehat ala Nabi Muhammad Saw.. Penjelasannya sanga enak didengar dan sangat ilmiah.
Diantara yang agak serius adalah obrolan tentang mancing ikan. Jadi ia punya kolam ikan dan sudah ada yang datang untuk menayakan bisa tidaknya untuk kongkur (mancing ikan) di tempatnya. Maka Ustadz langsung saja menolak.
Alasan penolakannya ternyata sangat filosofis dan fiqhiyah. Ia berawal dari fakta. Ia berpandangan bahwa faktanya orang yang mancing di sekitar sana melupakan shalat bahkan ada yang sampai tidak shalat Jumu'ah. Ini sudah merupakan kelalaian yang disengaja. Karena tidak mungkin ia tidak mendengar atau tidak melihat syi'ar-syi'ar jumu'ah.
Kedua, faktanya yang memancing ikan di kolam-kolam itu hanya mementingkan kesenangan sendiri. Rata-rata orang akan gembira dengan ikan yang mau memakan umpannya. Dan setelah didapat kemudian ia lepaskan lagi. Dengan ini orang itu telah bergembira di atas penderitaan ikan yang kesakitan. Padahal ikan yang dipancing pada awalnya adalah untuk dikonsumsi dan ini tidak menyalahi, dari pada ikan tersiksa begitu.
Ketiga, alasan penolakan Ustadz Ridwan akan hal di atas adalah bila semua yang menurutnya tidak baik itu dilakukan di kolam yang ia setujuai untuk itu berarti ia telah pula ikut andil karena ia telah menyediakan fasilitas untuk itu. Dan ia takut kebawa-bawa nanti di akhirat.
Sungguh luar biasa. Ini visi yang jauh ke dean. Ini buah iman yang dijaga dengan riyadhoh dan istiqomah. Inilah iman yang lebih mementingkan keridhoan Allah semata sehingga rela meninggalkan keuntungan bisnis kolam pemancingan yang ntungnya telah di depan mata.
Semoga kita bisa menauladani teladan yang sangat luar biasa ini.