Nama aslinya kami tidak tahu persis. Hanya saja kami sebagai anak kampung Girang sering menyebutnya Pak Mayor, lengkapnya Pak Mayor Basri. Ia adalah pensiunan Tentara Nasional Indonesia angkatan darat.
Sebagai mantan tentara, sikap disiplin dan sikap tegas dan pemberaninya sangat kelihatan. Raut muka yang menampakan tempaan yang keras tergambar dalam gurat-gurat di wajahnya.
Sikap tegasnya sangat tampak saat beberapa waktu orang-orang pada berbicara dan bercanda yang tidak ada manfaatnya di dalam mesjid. Beliau sangat tidak menyukainya dan langsung meminta orang-orang di sana untuk menghentikannya.
Sikap tegas dan pemberani pun tampak saat dahulu ada pelebaran jalan. Jalan yang menghubungkan daerah Cianjur dengan Daerah Garut itu akan diperlebar. Karena rumahnya berada tepat dipinggir jalan, maka secara otomatis halaman rumahnya ada yang tergusur untuk bahu jalan. Dan ia sangat tegas mempertahankan setiap jengkal lahan miliknya, lebih-lebih saat itu ada ukuran yang tidak sama dengan pihak petugas.
Setiap pagi ia menyapu teras dan halaman rumahnya, sampai- bersih, hingga halaman itu seperti bisa dipakai untuk bercermin, karena sangat bersihnya. Ia juga yang tidak pernah absen ketinggalan shalat fardhu di masjid. Meskipun tidak selalu dapat berjamaah karena berbagai sebab, seringnya karena tidak punya ada orang lain yang datang ke mesjid.
Kini ia Tak Mampu Shalat Berdiri
Memang benar saja bahwa dunia selalu menggiring manusia untuk tidak tetap pada satu kondisi. Yang dulu anak-anak kini sudah punya anak, Yang dulu sebagai cucu sekarang sudah punya cucu, yang dulu siswa sekarang sudah menjadi guru, yang dulu menderita sekarang bahagia, dan seterusnya.
Begitu pula yang terjadi dengan Sang Mayor ini. Kini badannya ringkih dan sering merasakan sakit di bagian kaki. Beberapa kali sempat berkunjung ke dokter. Penulis juga pernah berobat bersamanya ke suatu daerah di Garut.
Namun begitu ia tetap setia, seperti ia sangat setia kepada isterinya tercinta, Nyonya Aminah. Ia setia mendatangi shalat fardhu berjamaah di Masjid. Dulu badannya sangat tegak berdiri. Kini ia bisa shalat sambil duduk. Semangatnya dalam menggapai rido Allah adalah teladan bagi kita semua.
sariphidayat.com
Sebagai mantan tentara, sikap disiplin dan sikap tegas dan pemberaninya sangat kelihatan. Raut muka yang menampakan tempaan yang keras tergambar dalam gurat-gurat di wajahnya.
Sikap tegasnya sangat tampak saat beberapa waktu orang-orang pada berbicara dan bercanda yang tidak ada manfaatnya di dalam mesjid. Beliau sangat tidak menyukainya dan langsung meminta orang-orang di sana untuk menghentikannya.
Setiap pagi ia menyapu teras dan halaman rumahnya, sampai- bersih, hingga halaman itu seperti bisa dipakai untuk bercermin, karena sangat bersihnya. Ia juga yang tidak pernah absen ketinggalan shalat fardhu di masjid. Meskipun tidak selalu dapat berjamaah karena berbagai sebab, seringnya karena tidak punya ada orang lain yang datang ke mesjid.
Kini ia Tak Mampu Shalat Berdiri
Begitu pula yang terjadi dengan Sang Mayor ini. Kini badannya ringkih dan sering merasakan sakit di bagian kaki. Beberapa kali sempat berkunjung ke dokter. Penulis juga pernah berobat bersamanya ke suatu daerah di Garut.
Namun begitu ia tetap setia, seperti ia sangat setia kepada isterinya tercinta, Nyonya Aminah. Ia setia mendatangi shalat fardhu berjamaah di Masjid. Dulu badannya sangat tegak berdiri. Kini ia bisa shalat sambil duduk. Semangatnya dalam menggapai rido Allah adalah teladan bagi kita semua.
sariphidayat.com